Saturday, December 31, 2011

Harga dan nilai

Beberapa orang yang saya kenal, mereka adalah guru yang sebenarnya dalam kehidupan saya, karena telah mengajarkan hal-hal yang tidak saya dapatkan di pendidikan formal selama sekolah belasan tahun.

Mereka telah mengajarkan saya perbedaan dari harga dan nilai.

Suatu barang bisa tidak seberapa harganya tapi sangat bernilai, contohnya adalah diary (buku harian) kita, atau kado sederhana dari sang pacar, atau kenang-kenangan dari suatu tempat.
Karena kalau benda tersebut hilang dapat tak tergantikan lagi tentunya.

Suatu barang juga bisa harganya mahal tapi nilainya tidak seberapa.
Karena nilai itu sangat subjektif, tergantung preferensi atau minat orang tersebut.
Beberapa artis di Indonesia contohnya bisa mengkoleksi tas seharga puluhan hingga ratusan juta, harga yang untuk mereka tidak seberapa demi sebuah tas yang menurut orang lain tidak punya nilai tinggi.

Suatu barang tentunya bisa harganya mahal dan juga bernilai tinggi.
Contohnya kalau seseorang menderita gagal ginjal kronis, maka uang puluhan (bahkan ratusan) juta yang dikeluarkan mungkin sebanding juga dengan nilai kehidupan yang ingin ditukarkan.


Bagaimana kita menghargai nilai dari tubuh kita sendiri ?


Saya belajar betapa bernilainya tubuh saya dari orang-orang sekitar saya (pasien, saudara, kenalan, orang asing) yang tidak mempunyai apa yang saya punya.

Ketika saya melihat orang yang tidak mempunyai jari-jari tangan, saya merasakan betapa beruntungnya nilai jari-jari tangan saya yang telah membantu saya menuliskan blog ini.

Ketika saya melihat orang yang tidak mempunyai kaki lengkap, saya merasakan betapa beruntungnya nilai kaki saya yang telah membawa saya traveling ke berbagai tempat di dunia yang indah ini.

Ketika saya melihat orang yang anggota tubuhnya kurang lengkap, saya semakin bersyukur dan sadar bahwa betapa anugerah yang sudah Tuhan berikan memang harus saya jaga.

Ketika kita jatuh sakit, memang kita baru menyadari betapa bernilainya kesehatan itu.

Itu juga sebabnya dokter jadi 'bisnis' kesehatan paling laku dimana pun (tak terkecuali di Indonesia) karena orang sakit biasanya tidak memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan, asalkan sembuh.


Bagaimana dengan promosi atau prevensi kesehatan ?

Di lain pihak, ini poin yang sama penting dengan pengobatan tapi sering diabaikan.

Seberapa sering kita lihat orang tanpa sadar meracuni dirinya sendiri dengan merokok, makan makanan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, terlalu capai, kurang tidur dan lain-lain.

Untuk orang yang berat badannya berlebih, tentu lebih murah mengeluarkan biaya untuk mengikuti keanggotaan di sebuah klub kebugaran daripada membayar operasi sedot lemak.

Untuk mengetahui seberapa bernilainya alat kesehatan reproduksi kita, tidak perlu kita bertanya kepada mereka yang telah menderita kanker mulut rahim atau kanker pada alat reproduksinya.
Karena bagi wanita, entah menikah atau tidak, kesehatan alat reproduksi adalah investasi yang perlu kita jaga.

Pilihan kembali ke tangan kita, harga mana yang akan kita pilih untuk kesehatan kita yang tak ternilai harganya.

No comments:

Post a Comment