Beberapa orang yang saya kenal, mereka adalah guru yang sebenarnya dalam kehidupan saya, karena telah mengajarkan hal-hal yang tidak saya dapatkan di pendidikan formal selama sekolah belasan tahun.
Mereka telah mengajarkan saya perbedaan dari harga dan nilai.
Suatu barang bisa tidak seberapa harganya tapi sangat bernilai, contohnya adalah diary (buku harian) kita, atau kado sederhana dari sang pacar, atau kenang-kenangan dari suatu tempat.
Karena kalau benda tersebut hilang dapat tak tergantikan lagi tentunya.
Suatu barang juga bisa harganya mahal tapi nilainya tidak seberapa.
Karena nilai itu sangat subjektif, tergantung preferensi atau minat orang tersebut.
Beberapa artis di Indonesia contohnya bisa mengkoleksi tas seharga puluhan hingga ratusan juta, harga yang untuk mereka tidak seberapa demi sebuah tas yang menurut orang lain tidak punya nilai tinggi.
Suatu barang tentunya bisa harganya mahal dan juga bernilai tinggi.
Contohnya kalau seseorang menderita gagal ginjal kronis, maka uang puluhan (bahkan ratusan) juta yang dikeluarkan mungkin sebanding juga dengan nilai kehidupan yang ingin ditukarkan.
Bagaimana kita menghargai nilai dari tubuh kita sendiri ?
Saya belajar betapa bernilainya tubuh saya dari orang-orang sekitar saya (pasien, saudara, kenalan, orang asing) yang tidak mempunyai apa yang saya punya.
Ketika saya melihat orang yang tidak mempunyai jari-jari tangan, saya merasakan betapa beruntungnya nilai jari-jari tangan saya yang telah membantu saya menuliskan blog ini.
Ketika saya melihat orang yang tidak mempunyai kaki lengkap, saya merasakan betapa beruntungnya nilai kaki saya yang telah membawa saya traveling ke berbagai tempat di dunia yang indah ini.
Ketika saya melihat orang yang anggota tubuhnya kurang lengkap, saya semakin bersyukur dan sadar bahwa betapa anugerah yang sudah Tuhan berikan memang harus saya jaga.
Ketika kita jatuh sakit, memang kita baru menyadari betapa bernilainya kesehatan itu.
Itu juga sebabnya dokter jadi 'bisnis' kesehatan paling laku dimana pun (tak terkecuali di Indonesia) karena orang sakit biasanya tidak memikirkan berapa biaya yang harus dikeluarkan, asalkan sembuh.
Bagaimana dengan promosi atau prevensi kesehatan ?
Di lain pihak, ini poin yang sama penting dengan pengobatan tapi sering diabaikan.
Seberapa sering kita lihat orang tanpa sadar meracuni dirinya sendiri dengan merokok, makan makanan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, terlalu capai, kurang tidur dan lain-lain.
Untuk orang yang berat badannya berlebih, tentu lebih murah mengeluarkan biaya untuk mengikuti keanggotaan di sebuah klub kebugaran daripada membayar operasi sedot lemak.
Untuk mengetahui seberapa bernilainya alat kesehatan reproduksi kita, tidak perlu kita bertanya kepada mereka yang telah menderita kanker mulut rahim atau kanker pada alat reproduksinya.
Karena bagi wanita, entah menikah atau tidak, kesehatan alat reproduksi adalah investasi yang perlu kita jaga.
Pilihan kembali ke tangan kita, harga mana yang akan kita pilih untuk kesehatan kita yang tak ternilai harganya.
Saturday, December 31, 2011
Sunday, November 20, 2011
Kenapa harus Pembalut Anion ?
Ada beberapa alasan orang ingin menjalankan bisnis,
Alasan [1] ekonomi : mulai dari butuh uang, pengen lebih makmur, atau ingin kebebasan finansial: gak harus mikirin 'kalo gak kerja dapet duit dari mana ?'
Alasan lain karena [2] passion, karena sesuai dengan minatnya atau alasan lainnya [3] ingin menolong orang lain karena sesuai dengan passion-nya [kembali ke alasan 2].
Buatku sebagai seorang dokter yang memulai karir baru ajah 6 tahun yang lalu, banyak sekali curhat orang-orang yang aku kenal : baik muda (umur remaja) sampe yang tua (sudah menopause) - keluhan soal alat reproduksi.
Baik itu keluhan gejala keputihan, haid gak teratur, sakit haid berlebihan sampe mau pingsan, haid gak normal (darah bergumpal), haid terlalu banyak/ terlalu sedikit, gejala infeksi alat kelamin (gatel, bengkak), susah punya anak, kista dalam rahim/ indung telur dan temen-temennya yang lain.
Ini juga yang membuatku tertarik mendalami lebih tentang reproductive health atau kesehatan reproduksi serta permasalahannya.
Kursus pertama yang aku ikutin di Amsterdam (karena waktu itu dapet beasiswa dari NFP) jadi salahsatu kursus yang sangat berkesan sekaligus mencerahkan.
Dan jadi semakin yakin, bahwa kesehatan reproduksi merupakan permasalahan yang penting tapi juga masih kurang mendapat perhatian.
Contohnya di Indonesia, banyak sekali angka kejadian kanker serviks/mulut rahim di masyarakat kita - terutama dari kalangan ekonomi lemah, yang penanganannya kurang.
Karena mereka-mereka dari golongan ekonomi lemah biasanya juga gak kontrol teratur ke dokter, biasanya saat terdiagnosis sudah stadium lanjut dan bila ditangani pun, kadang telat dan hasilnya tidak se-optimal bila penyakit tersebut diketahui lebih awal.
Banyak juga anak muda jaman sekarang yang sudah mempunyai gejala keluhan alat reproduksi di usia dini, contohnya gejala keputihan yang tidak sewajarnya.
Keputihan yang wajar seharusnya tidak gatal, tidak berwarna (bening), dan baunya tidak menyengat. Keputihan wajar pada saat perempuan mengalami ovulasi atau masa-masa subur (di pertengahan siklus menstruasi).
Keputihan yang tidak wajar atau gatal harus dicurigai sebagai tanda awal dari infeksi saluran/ alat reproduksi.
Produk pembalut sebenarnya memegang peranan penting dalam siklus bulanan seorang perempuan.
Bayangkan, setiap bulan seorang perempuan mengeluarkan darah menstruasi yang ditampung oleh pembalut tersebut- dan bisa jadi media pertumbuhan kuman yang baik, jika tidak diganti secara teratur (sebaiknya tiap 3-4 jam setiap pemakaian).
Pembalut yang baik juga seharusnya terbuat dari bahan yang menyerap darah yang dikeluarkan saat menstruasi- sehingga tidak membuat perempuan berasa 'becek' dan tetap nyaman beraktifitas saat haid.
Semakin banyak informasi yang aku tau tentang pembalut anion, semakin yakin bahwa produk ini bisa menjawab tantangan permasalahan temen-temen/ pasien/kenalanku yang punya permasalahan seputar alat reproduksi.
Dan buatku, gak ada kepuasan selain kepuasan dari seorang klien/ pasien/ teman yang merasakan manfaat dari produk ini sendiri :)
Alasan [1] ekonomi : mulai dari butuh uang, pengen lebih makmur, atau ingin kebebasan finansial: gak harus mikirin 'kalo gak kerja dapet duit dari mana ?'
Alasan lain karena [2] passion, karena sesuai dengan minatnya atau alasan lainnya [3] ingin menolong orang lain karena sesuai dengan passion-nya [kembali ke alasan 2].
Buatku sebagai seorang dokter yang memulai karir baru ajah 6 tahun yang lalu, banyak sekali curhat orang-orang yang aku kenal : baik muda (umur remaja) sampe yang tua (sudah menopause) - keluhan soal alat reproduksi.
Baik itu keluhan gejala keputihan, haid gak teratur, sakit haid berlebihan sampe mau pingsan, haid gak normal (darah bergumpal), haid terlalu banyak/ terlalu sedikit, gejala infeksi alat kelamin (gatel, bengkak), susah punya anak, kista dalam rahim/ indung telur dan temen-temennya yang lain.
Ini juga yang membuatku tertarik mendalami lebih tentang reproductive health atau kesehatan reproduksi serta permasalahannya.
Kursus pertama yang aku ikutin di Amsterdam (karena waktu itu dapet beasiswa dari NFP) jadi salahsatu kursus yang sangat berkesan sekaligus mencerahkan.
Dan jadi semakin yakin, bahwa kesehatan reproduksi merupakan permasalahan yang penting tapi juga masih kurang mendapat perhatian.
Contohnya di Indonesia, banyak sekali angka kejadian kanker serviks/mulut rahim di masyarakat kita - terutama dari kalangan ekonomi lemah, yang penanganannya kurang.
Karena mereka-mereka dari golongan ekonomi lemah biasanya juga gak kontrol teratur ke dokter, biasanya saat terdiagnosis sudah stadium lanjut dan bila ditangani pun, kadang telat dan hasilnya tidak se-optimal bila penyakit tersebut diketahui lebih awal.
Banyak juga anak muda jaman sekarang yang sudah mempunyai gejala keluhan alat reproduksi di usia dini, contohnya gejala keputihan yang tidak sewajarnya.
Keputihan yang wajar seharusnya tidak gatal, tidak berwarna (bening), dan baunya tidak menyengat. Keputihan wajar pada saat perempuan mengalami ovulasi atau masa-masa subur (di pertengahan siklus menstruasi).
Keputihan yang tidak wajar atau gatal harus dicurigai sebagai tanda awal dari infeksi saluran/ alat reproduksi.
Produk pembalut sebenarnya memegang peranan penting dalam siklus bulanan seorang perempuan.
Bayangkan, setiap bulan seorang perempuan mengeluarkan darah menstruasi yang ditampung oleh pembalut tersebut- dan bisa jadi media pertumbuhan kuman yang baik, jika tidak diganti secara teratur (sebaiknya tiap 3-4 jam setiap pemakaian).
Pembalut yang baik juga seharusnya terbuat dari bahan yang menyerap darah yang dikeluarkan saat menstruasi- sehingga tidak membuat perempuan berasa 'becek' dan tetap nyaman beraktifitas saat haid.
Semakin banyak informasi yang aku tau tentang pembalut anion, semakin yakin bahwa produk ini bisa menjawab tantangan permasalahan temen-temen/ pasien/kenalanku yang punya permasalahan seputar alat reproduksi.
Dan buatku, gak ada kepuasan selain kepuasan dari seorang klien/ pasien/ teman yang merasakan manfaat dari produk ini sendiri :)
Saturday, November 19, 2011
Mau enak tapi gak mau susah
"Koq mahal banget modalnya ?"
Itu dia pertanyaan mama saya waktu saya baru mau mulai bisnis ini.
Untuk dia yang kurang mengerti prinsip high investment = high return, perlu waktu buat meyakinkan bahwa semua bisnis (besar) perlu dimulai oleh modal (besar).
Pertanyaanku balik adalah: 'Emang bisnis apa yang gak perlu modal ?'
Jadi tukang parkir aja perlu (1) peluit (2) seragam (3) keahlian markir - walopun gak ada sekolahnya.
Itu pun masih ada resiko kompetisi lahan parkir sama tukang parkir laen yang lebih senior. Gajinya pun gak pasti dan gak tetap, plus gak ada jaminan asuransi dan pensiun. Belum kalo ujan keujanan, dan kalo panas kepanasan.
Orang jualan bakso juga perlu (1) gerobak (2) stok bakso untuk dijual (3) mangkok, alat makan (4) tempat mangkal. Dan kalau tukang bakso jualan di Bandung, harus enak rasanya - kalau gak enak dia bakalan kalah bersaing sama tukang bakso laen yang lebih enak. Belum kalau dagangan gak laku dan dipalak preman.
Mau jadi dokter ya harus sekola dokter (gak gampang dan gak murah masuknya), lama pula baru bisa praktek untuk balik modal (minimal 6 tahun deh kalo lancar).
Mau bisnis ya harus keluar modal (investment).
Tapi untungnya kalo mau mulai bisnis gak selalu harus sekola bisnis.
Mau bukti? Silahkan tanya Ma Icih ...
Prinsip 'bersusah susah dahulu, bersenang-senang kemudian' masih valid ternyata, dalam bidang apa pun.
Mau enak tapi gak mau susah (awalnya) . . . hmmmm . . . kalo ada orang bisa sukses tapi gak pake usaha, please kasitau supaya aku bisa belajar dari dia gimana caranya.
Yang penting adalah mencari bisnis apa yang resiko nya kecil, tingkat kegagalannya rendah, dan sesuai dengan minat kita.
Karena kalau sesuai minat maka ngejalanin-nya pun akan berasa enjoy aja, dan gak akan berasa membebankan.
Besides, I'm sure 199% that this is going to be something big.
And I couldn't just sit there and see everybody sharing the cake . . . (while I'm drooling).
Jadi, kesimpulan akhirnya, gimana caranya meyakinkan mamaku?
Aku cuman bilang, 'Mam, kalo aku berhasil (di bisnis ini), kan mama sendiri yang bakal menikmati hasilnya. Nanti kalo jalan-jalan ke Eropa bakal aku kasih uang sakunya.'
It's always works with her in that way, thankfully.
Friday, November 18, 2011
Satu jam saja
Apa yang bisa kita lakukan dalam waktu satu jam ?
Dalam sehari ada 24 jam.
Rata-rata orang normal menghabiskan waktu sekitar 6-8 jam untuk tidur.
Masih ada sisa waktu (24-8)= 16 jam.
Kita kerja di kantor sekitar 8 jam sehari, masi ada sisa waktu (16-8)= 8 jam
yang bisa digunakan untuk perjalanan ke kantor (1-2 jam, tergantung lokasi tinggal).
Tersisa 6 jam, bisa dipakai untuk makan, aktivitas sehari-hari beres-beres rumah, santai leyeh-leyeh, ngobrol sama temen/famili- anggaplah masih ada 2 jam tersisa setiap harinya.
Seorang dokter tentu mengerti betapa pentingnya arti waktu satu jam.
Pasien UGD yang menderita gegar otak dan telat penanganan bisa meninggal dalam waktu kurang dari 1 jam. Bahkan pasien yang menderita sumbatan saluran pernafasan bisa meninggal dalam waktu beberapa menit saja.
Satu jam setiap hari = 356 jam atau 15 hari per tahun, yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang manusia.
Kita bisa belajar bahasa asing (atau belajar International Sign Language), membaca buku-buku yang meningkatkan pengetahuan kita, belajar sesuatu yang baru/ hobi baru, belajar cara berinvestasi lebih baik.
Waktu satu jam juga bisa kita buang begitu saja dengan nonton sinetron (gak penting, gak menambah wawasan), bergosip dengan orang lain, buka-buka Fb sambil melihat gosip orang lain (kadang-kadang emang seru juga), dan seterusnya.
Pilihannya tentu terserah kita.
Kita lah yang menjadi tuan atas pilihan-pilihan yang kita ambil.
Jika kita komitmen untuk meng-alokasikan waktu satu jam setiap harinya, keputusan itu bisa jadi hal yang bisa mengubah hidup kita selamanya : Misal kalau kita serius berkomitmen untuk belajar main gitar, maka dalam waktu 3 tahun kita akan menguasai alat musik gitar.
Kita bisa menunjukkan keahlian maen alat musik itu sambil dibayar semakin kita ahli.
Sama seperti alokasi waktu untuk hal berbisnis juga.
Sebagai contoh, kalo kita punya komitmen untuk buka toko kue karena itu yang jadi passion kita, tentu kita akan belajar gimana caranya cari lahan yang baik dan berprospek untuk buka toko. Atau gimana supaya tampilan kue menarik dan orang mau mencoba. Atau meyakinkan klien supaya percaya bahwa kue kita emang enak dan harus dikonsumsi.
Komitmen kita akan sangat menentukan langkah-langkah apa yang kita ambil kedepannya.
Sama juga dengan seseorang yang mempersiapkan dirinya untuk pensiun.
Orang biasanya tau semakin tua maka tenaga akan semakin berkurang, makanya mumpung masih muda mereka rajin kerja nabung supaya bisa dinikmati nanti setelah masuk masa pensiun.
Tapi semakin banyak orang jaman sekarang yang meraih keberhasilan dalam usia muda dan menikmati pensiun dalam usia yang lebih dini.
Apakah artinya orang-orang ini bisa bermalas-malasan dengan hasil pensiun-nya?
Kayanya engga juga.
Banyak orang berhenti bekerja, karena sudah punya passive income.
Passive income ini membuat kita bisa melakukan apapun yang jadi passion dan interest kita, untuk seorang dokter misalnya, dia bisa murni menolong orang tanpa kuatir apakah pasien-nya mampu bayar atau engga.
Ini juga membuat hidup kita lebih berkualitas karena kita gak akan stress berasa 'dikejar-kejar setoran' karena kita hanya melakukan apapun yang kita senangi.
And life is really good, when you're profession is your passion :)
Dalam sehari ada 24 jam.
Rata-rata orang normal menghabiskan waktu sekitar 6-8 jam untuk tidur.
Masih ada sisa waktu (24-8)= 16 jam.
Kita kerja di kantor sekitar 8 jam sehari, masi ada sisa waktu (16-8)= 8 jam
yang bisa digunakan untuk perjalanan ke kantor (1-2 jam, tergantung lokasi tinggal).
Tersisa 6 jam, bisa dipakai untuk makan, aktivitas sehari-hari beres-beres rumah, santai leyeh-leyeh, ngobrol sama temen/famili- anggaplah masih ada 2 jam tersisa setiap harinya.
Seorang dokter tentu mengerti betapa pentingnya arti waktu satu jam.
Pasien UGD yang menderita gegar otak dan telat penanganan bisa meninggal dalam waktu kurang dari 1 jam. Bahkan pasien yang menderita sumbatan saluran pernafasan bisa meninggal dalam waktu beberapa menit saja.
Satu jam setiap hari = 356 jam atau 15 hari per tahun, yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang manusia.
Kita bisa belajar bahasa asing (atau belajar International Sign Language), membaca buku-buku yang meningkatkan pengetahuan kita, belajar sesuatu yang baru/ hobi baru, belajar cara berinvestasi lebih baik.
Waktu satu jam juga bisa kita buang begitu saja dengan nonton sinetron (gak penting, gak menambah wawasan), bergosip dengan orang lain, buka-buka Fb sambil melihat gosip orang lain (kadang-kadang emang seru juga), dan seterusnya.
Pilihannya tentu terserah kita.
Kita lah yang menjadi tuan atas pilihan-pilihan yang kita ambil.
Jika kita komitmen untuk meng-alokasikan waktu satu jam setiap harinya, keputusan itu bisa jadi hal yang bisa mengubah hidup kita selamanya : Misal kalau kita serius berkomitmen untuk belajar main gitar, maka dalam waktu 3 tahun kita akan menguasai alat musik gitar.
Kita bisa menunjukkan keahlian maen alat musik itu sambil dibayar semakin kita ahli.
Sama seperti alokasi waktu untuk hal berbisnis juga.
Sebagai contoh, kalo kita punya komitmen untuk buka toko kue karena itu yang jadi passion kita, tentu kita akan belajar gimana caranya cari lahan yang baik dan berprospek untuk buka toko. Atau gimana supaya tampilan kue menarik dan orang mau mencoba. Atau meyakinkan klien supaya percaya bahwa kue kita emang enak dan harus dikonsumsi.
Komitmen kita akan sangat menentukan langkah-langkah apa yang kita ambil kedepannya.
Sama juga dengan seseorang yang mempersiapkan dirinya untuk pensiun.
Orang biasanya tau semakin tua maka tenaga akan semakin berkurang, makanya mumpung masih muda mereka rajin kerja nabung supaya bisa dinikmati nanti setelah masuk masa pensiun.
Tapi semakin banyak orang jaman sekarang yang meraih keberhasilan dalam usia muda dan menikmati pensiun dalam usia yang lebih dini.
Apakah artinya orang-orang ini bisa bermalas-malasan dengan hasil pensiun-nya?
Kayanya engga juga.
Banyak orang berhenti bekerja, karena sudah punya passive income.
Passive income ini membuat kita bisa melakukan apapun yang jadi passion dan interest kita, untuk seorang dokter misalnya, dia bisa murni menolong orang tanpa kuatir apakah pasien-nya mampu bayar atau engga.
Ini juga membuat hidup kita lebih berkualitas karena kita gak akan stress berasa 'dikejar-kejar setoran' karena kita hanya melakukan apapun yang kita senangi.
And life is really good, when you're profession is your passion :)
Thursday, November 17, 2011
Investasi Kesehatan
Satu hal penting yang bisa saya cermati saat studi di luar adalah,
'Orang Eropa tuh peduli banget sama kesehatan ya ?'
Di sana pertama-tama saya liat orang tuh bener-bener sehat makanannya,
anak mudanya banyak makan sayur (salad) dan buah, jarang makan makanan berminyak (gorengan), rajin jogging (mau cuaca jelek, dingin, ujan, selalu aja nemu orang jogging di jalan).
Kalau naek metro/ transportasi umum, saya bisa perhatikan disana kalau orang tua hampir gak ada bedanya postur tubuhnya sama orang yang muda.
Karena orang yang tua pun bisa tegap dan bodinya bagus berbentuk.
Jarang deh nemu orang yang tua, gemuk (obesitas), bungkuk dan tampang sakit, perasaan yah.
Mereka juga trend banget 'makanan organik' yang sehat, tanpa pestisida, mengurangi memakai bahan pengawet atau pewarna buatan. Juga mengurangi pemakaian bumbu tambahan seperti garam dan merica.
Gak kaya disini kalau abis makan di restoran bisa pusing dan haus luar biasa karena banyak pake pecin.
Tentu aja karena Indonesia negara berkembang, makanya kita kurang informasi soal gimana pola hidup lebih sehat.
Ada 2 macam tipe orang, yaitu tipe (1) 'hidup untuk makan' dan tipe (2) 'makan untuk hidup'.
Prinsip orang yang hidup untuk makan, berarti hidupnya dihabiskan untuk makan (enak) dan makan (gak sehat).
Ini adalah tipe orang yang suka wisata kuliner (gak salah koq, tapi kalo berlebihan gak baik juga), dan menikmati hidup karena doyan makan enak (gak ada orang yang doyan makanan gak enak).
Biasanya mereka rentan penyakit metabolisme seperti contohnya penyakit tekanan darah tinggi (karena kebanyakan garam dan pecin), penyakit kencing manis/ diabetes (kebanyakan konsumsi gula dan karbohidrat), dan penyakit kolesterol (kebanyakan konsumsi lemak gak sehat).
Kalo orang berprinsip makan untuk hidup, berarti makan makanan yang dikonsumsi hanya berfungsi sekedar untuk mempertahankan kehidupan.
Tipe orang seperti ini contohnya Mahatma Gandhi, liat aja fotonya betapa kurusnya dia.
Buat orang-orang seperti dia- makan gak penting penting amat yang penting besok masih bisa hidup.
Tentu aja kita gak mau terlalu extreme seperti Gandhi yang kurus langsing, tapi intinya adalah:
dengan memilih tipe apa yang kita inginkan, kita bisa memilih jenis makanan apa juga yang akan kita konsumsi.
Ada pepatah : 'You are what you eat'
Ini 150% benar, karena tubuh kita akan berterima kasih kalau kita makan makanan sehat.
Dan tubuh kita juga yang akan dirugikan kalau kita makan makanan gak sehat.
Pilihan yang kita buat sekarang dalam pikiran, akan menentukan tindakan seperti apa yang akan kita ambil sehari-harinya supaya tetap sehat.
'Orang Eropa tuh peduli banget sama kesehatan ya ?'
Di sana pertama-tama saya liat orang tuh bener-bener sehat makanannya,
anak mudanya banyak makan sayur (salad) dan buah, jarang makan makanan berminyak (gorengan), rajin jogging (mau cuaca jelek, dingin, ujan, selalu aja nemu orang jogging di jalan).
Kalau naek metro/ transportasi umum, saya bisa perhatikan disana kalau orang tua hampir gak ada bedanya postur tubuhnya sama orang yang muda.
Karena orang yang tua pun bisa tegap dan bodinya bagus berbentuk.
Jarang deh nemu orang yang tua, gemuk (obesitas), bungkuk dan tampang sakit, perasaan yah.
Mereka juga trend banget 'makanan organik' yang sehat, tanpa pestisida, mengurangi memakai bahan pengawet atau pewarna buatan. Juga mengurangi pemakaian bumbu tambahan seperti garam dan merica.
Gak kaya disini kalau abis makan di restoran bisa pusing dan haus luar biasa karena banyak pake pecin.
Tentu aja karena Indonesia negara berkembang, makanya kita kurang informasi soal gimana pola hidup lebih sehat.
Ada 2 macam tipe orang, yaitu tipe (1) 'hidup untuk makan' dan tipe (2) 'makan untuk hidup'.
Prinsip orang yang hidup untuk makan, berarti hidupnya dihabiskan untuk makan (enak) dan makan (gak sehat).
Ini adalah tipe orang yang suka wisata kuliner (gak salah koq, tapi kalo berlebihan gak baik juga), dan menikmati hidup karena doyan makan enak (gak ada orang yang doyan makanan gak enak).
Biasanya mereka rentan penyakit metabolisme seperti contohnya penyakit tekanan darah tinggi (karena kebanyakan garam dan pecin), penyakit kencing manis/ diabetes (kebanyakan konsumsi gula dan karbohidrat), dan penyakit kolesterol (kebanyakan konsumsi lemak gak sehat).
Kalo orang berprinsip makan untuk hidup, berarti makan makanan yang dikonsumsi hanya berfungsi sekedar untuk mempertahankan kehidupan.
Tipe orang seperti ini contohnya Mahatma Gandhi, liat aja fotonya betapa kurusnya dia.
Buat orang-orang seperti dia- makan gak penting penting amat yang penting besok masih bisa hidup.
Tentu aja kita gak mau terlalu extreme seperti Gandhi yang kurus langsing, tapi intinya adalah:
dengan memilih tipe apa yang kita inginkan, kita bisa memilih jenis makanan apa juga yang akan kita konsumsi.
Ada pepatah : 'You are what you eat'
Ini 150% benar, karena tubuh kita akan berterima kasih kalau kita makan makanan sehat.
Dan tubuh kita juga yang akan dirugikan kalau kita makan makanan gak sehat.
Pilihan yang kita buat sekarang dalam pikiran, akan menentukan tindakan seperti apa yang akan kita ambil sehari-harinya supaya tetap sehat.
Thursday, November 10, 2011
Sehat itu Mahal
Sehat itu mahal.Diantara sekian banyak petuah yang muncul dari orang yang lebih senior (baca: tua), pernyataan diatas mungkin yang memang bener terbukti kebenarannya setelah saya jadi dokter.
Banyak orang pengen sehat tapi males olahraga, pola hidup tidak sehat, kurang tidur, merokok atau terlalu banyak makan makanan gak sehat.
Ini bukan gara-gara orang itu gak mampu, orang kaya atau miskin sama-sama tau kalo kesehatan itu harus dijaga - dan kalau udah sakit (apalagi jatuh sakit yang parah) - biasanya baru sadar kalau kesehatan itu ternyata mahal dan harus dijaga.
Mana yang lebih mahal, beli rokok atau beli buah ?
Di Indonesia, jawabannya beli buah (lebih mahal daripada rokok).
Makanya orang sakit paru disini juga lebih banyak (daripada di Eropa misalnya).
Di Eropa, jawabannya rokok lebih mahal (daripada buah).
Di Denmark, harga rokok 4 kali lipatnya harga rokok di Indonesia.
Harga buah kalau dikurs sekitar 3000 rupiah / buah (berlaku untuk buah jenis apel, jeruk, kiwi, pir, peach, boleh dicampur. Anggur lebih mahal dikit).
Akibatnya tentu aja orang lebih pengen beli buah (karena murah juga) daripada rokok (yang mahal).
Ini tentunya karena pemerintah sana peduli kesehatan rakyatnya, dan gak mau banyak rakyatnya yang sakit.
Di Indonesia, sebaliknya, kebijakan disini rokok murah - akibatnya banyak orang sakit alat pernafasan kronis (kebanyakan orang tua, dan gak mampu secara ekonomi) dan disini orang tidak selalu punya asuransi kesehatan.
Siapa yang diuntungkan?
1. Perusahaan rokok tentunya.
Liat saja iklan-iklan rokok yang bertebaran di media televisi maupun wilayah publik laennya.
Mereka gak pernah kehabisan duit untuk promosi rokok, karena laba nya banyak banget !
2. Dokter (kan kalau pasien sakit larinya ke dokter).
Makanya sebagai dokter, mestinya saya rugi kalau promosi kesehatan ke orang-orang:
nanti kalau semua orang sehat . . . bisa-bisa praktek dokter gak laku dong.
Salah. Tugas dokter kan promosi kesehatan juga.
Jadi kembali lagi ke pesan di atas.
Jangan pernah sayang duit kalau untuk urusan menjaga kesehatan.
Duit yang keluar untuk urusan kesehatan merupakan investasi untuk masa depan kita juga.
Siapa juga yang mau punya banyak duit tapi sakit-sakitan?
Karena kalau kita sakit, kan kita juga yang rugi gak bisa kerja atau menikmati hasil kerja kita, kan?
Kembali ke pesan sponsor tadi : Sehat itu mahal dan sebuah investasi, mau sekarang atau nanti mending mulai berpola hidup sehat deh.
Subscribe to:
Comments (Atom)